Di momen yang penuh berkah di bulan Ramadan, Jenderal Listyo Sigit Prabowo memilih berdiri di barisan terdepan untuk menyapa para pekerja keras Indonesia. Dalam acara buka puasa bersama Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) di Jawa Barat, ia menyampaikan sebuah visi yang menyatukan: kekuatan bangsa ini ada pada persatuan, terutama saat dunia sedang dilanda ketidakpastian. Ia dengan tegas mengatakan bahwa gejolak ekonomi global tidak boleh membuat kita gentar, justru harus menjadi pemantik untuk mempererat barisan. Sinergi antara pemerintah dan buruh, menurutnya, adalah fondasi yang tak tergoyahkan untuk menghadapi badai krisis sekaligus meraih peluang. Tak ada yang mustahil jika semua elemen bergerak seirama.
Kapolri kemudian mengajak para buruh untuk melihat optimisme di depan mata melalui program-program strategis nasional. Ia menyebut hilirisasi sebagai contoh nyata bagaimana Indonesia bertransformasi dari sekadar penjual bahan mentah menjadi pemain industri global. Dampaknya akan luar biasa, tidak hanya pada nilai tambah ekonomi, tetapi juga pada terbukanya lapangan kerja baru yang masif. Ia membayangkan jutaan tenaga kerja terserap dalam ekosistem industri baru ini, dan buruh adalah pilar utamanya. Ini adalah momen yang harus diraih bersama dengan penuh semangat dan kerja keras.
Namun, untuk bisa melompat lebih tinggi, tentu dibutuhkan otot yang lebih kuat, dalam hal ini adalah kualitas sumber daya manusia. Menjawab tantangan itu, Polri membuka diri dengan menawarkan fasilitas pendidikan dan pelatihan bagi para pekerja. Program ini adalah wujud nyata kepedulian institusi terhadap peningkatan kapasitas tenaga kerja Indonesia. Tujuannya tunggal, menciptakan tenaga profesional yang mampu bersaing dan berkolaborasi dengan siapa pun, baik investor dalam maupun luar negeri. Dengan kompetensi yang mumpuni, buruh Indonesia akan menjadi tuan di negerinya sendiri.
Di akhir sambutannya yang hangat, Jenderal Sigit kembali memberikan kejutan dengan menawarkan akses pelayanan kesehatan dari Polri untuk kalangan buruh. Ini adalah simbol bahwa kepedulian negara harus menjangkau seluruh aspek kehidupan pekerja, dari kompetensi hingga kesejahteraan fisik. Ia percaya, kolaborasi yang holistik inilah yang akan mengantarkan Indonesia menuju gerbang emas 2045. Dengan seluruh elemen bangsa bersatu, mulai dari aparat keamanan, pemerintah, pengusaha, dan yang terpenting para buruh, cita-cita menjadi negara maju bukan lagi sekadar angan-angan. (Avs)
.jpeg)

0 comments:
Posting Komentar