Rabu, 01 April 2026

Lebih dari Sekadar Tiga Poin di Kanjuruhan


Bagi Persebaya Surabaya dan Arema Malang, laga di Stadion Kanjuruhan pada 28 April nanti memang penting untuk meraih tiga poin. Namun, ada agenda yang jauh lebih besar yang sedang digarap oleh Polda Jawa Timur bersama kedua manajemen. Pada Rabu (1/4/2026), sebuah pertemuan yang sarat makna berlangsung di Ruang Selasar Polda Jatim, mempertemukan dua kubu yang biasanya terpisah oleh rivalitas menjadi satu kesatuan dalam komitmen. Ini adalah bukti bahwa di balik persaingan sengit di lapangan, ada kesadaran kolektif bahwa keselamatan dan kenyamanan adalah prioritas utama dalam ajang BRI Super League 2025/2026.

Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto yang memimpin langsung forum tersebut memberikan arahan yang menyentuh aspek fundamental penyelenggaraan pertandingan. Ia tidak hanya berbicara tentang pengamanan, tetapi juga tentang bagaimana sepak bola bisa menjadi alat pemersatu yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Apresiasi setinggi-tingginya diberikan kepada manajemen Persebaya dan Arema yang dinilainya telah menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi rivalitas. Beliau juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menjaga emosi agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu akurat, terutama yang beredar di media sosial. Kolaborasi yang solid antara aparat, klub, dan suporter menjadi kunci mutlak untuk mencapai tujuan bersama.

Menyambut hal tersebut, perwakilan Persebaya mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam atas peran aktif Polda Jatim dalam menjaga keberlangsungan kompetisi. Mereka berkomitmen untuk terus membangun kesadaran kolektif bahwa kemenangan akan terasa lebih indah jika diraih dengan cara yang sportif. Sementara itu, Presidium Aremania dengan lantang menyatakan kesiapannya untuk menjaga Stadion Kanjuruhan sebagai tempat yang aman bagi semua pihak, tanpa terkecuali. Mereka berjanji akan menindak tegas oknum-oknum yang mencoba merusak nama baik sepak bola Indonesia. Dengan berakhirnya pertemuan ini, harapan untuk mewujudkan budaya sepak bola yang aman, damai, dan berintegritas di Jawa Timur bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah gerakan nyata yang telah dimulai dari meja bundar.(Avs)

0 comments:

Posting Komentar