Selasa, 05 Mei 2026

Bukan Instruksi Keras, Tapi Bahasa Tubuh Ramah: Aipda Andik Ajari Calon Brimob Cara Melayani SIM


"Belok kiri! Berhenti! Jangan salah lagi!" Kalimat-kalimat seperti itu seringkali membuat pemohon SIM semakin panik. Namun, di Polres Nganjuk pada Rabu (6/5/2026), Aipda Andik bersama program Polantas Menyapa membuktikan bahwa ada cara lain yang lebih efektif. Para siswa Latihan Kerja Bintara Brimob diajari bahwa komunikasi persuasif dan bahasa tubuh yang ramah justru mampu menciptakan lingkungan ujian yang kondusif, di mana peserta merasa dibimbing, bukan dihakimi. Ini adalah pelajaran tentang kekuatan kata-kata dan senyuman dalam seragam polisi.

Apa saja elemen komunikasi humanis yang diajarkan? Kasat Lantas Polres Nganjuk AKP Ivan Danara Oktavian merinci bahwa Aipda Andik memberikan contoh konkret mulai dari kontak mata saat menyapa, posisi tangan yang tidak menyilang agar terlihat terbuka, hingga cara mengatur intonasi suara agar tidak terdengar seperti menggertak. Dalam coaching clinic tersebut, para siswa Latja Brimob diminta untuk mempraktikkan langsung cara memberikan arahan ujian praktik dengan kalimat positif, seperti "coba lebih pelan saja, nanti akan lebih mudah" daripada "kamu terlalu cepat, salah!". Hasilnya, pemohon SIM yang tadinya tegang terlihat lebih rileks dan mampu menyelesaikan ujian dengan lebih baik.

Di lapangan, Aipda Andik juga mengajarkan teknik mendengarkan aktif: bagaimana merespon keluhan pemohon tanpa memotong pembicaraan, serta bagaimana menunjukkan empati ketika ada peserta yang gagal. Para siswa Latja yang awalnya kaku perlahan mulai meniru gaya bicara yang lebih lembut, bahkan ada yang berhasil membuat pemohon yang awalnya marah karena antrean panjang menjadi tenang hanya dengan sapaan ramah. Mereka menyadari bahwa seragam polisi yang gagah sekalipun tidak akan berarti jika mulutnya hanya bisa mengeluarkan nada tinggi dan kata-kata tajam.

AKP Ivan Danara Oktavian menegaskan bahwa komunikasi adalah senjata paling halus namun paling mematikan dalam membangun kepercayaan publik. "Melalui kegiatan ini, kami ingin siswa Latja menguasai keterampilan berbicara dan bersikap yang membuat masyarakat merasa dihormati," ujarnya. Dengan bekal komunikasi persuasif ini, para calon Brimob tidak hanya siap mengamankan aksi unjuk rasa tetapi juga siap melayani warga biasa yang hanya butuh diurus SIM-nya dengan hati yang tenang. Inilah polisi yang bisa bicara dengan tubuh, mata, dan senyuman, bukan hanya dengan peluit dan pengeras suara.(Avs)

0 comments:

Posting Komentar