Di tengah padatnya agenda operasional dan tekanan publik terhadap kinerja kepolisian, Pusat Sejarah Polri justru mengambil jalur sunyi namun strategis. Mereka menggelar Rapat Kerja Teknis (Rakernis) pada 11-12 Mei 2026 di Hotel Oakwood Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, dengan tema yang sarat makna: “Reaktualisasi Tribrata dan Catur Prasetya untuk Penguatan Polri Presisi”. Dipimpin langsung Kepala Pusjarah Polri Brigjen Pol Abas Basuni, kegiatan ini dihadiri pejabat utama Pusjarah dan perwakilan lintas satuan kerja dari tingkat Mabes hingga kewilayahan. Pesan utama yang disampaikan sangat jelas: profesionalisme Polri tidak bisa dibangun tanpa fondasi nilai-nilai luhur yang sudah ada sejak berdirinya institusi ini.
Dalam sambutannya, Brigjen Pol Abas Basuni menekankan bahwa Pusjarah Polri tidak hanya bertugas melakukan penelitian, dokumentasi, pencatatan, dan pengkajian sejarah. Lebih dari itu, Pusjarah juga bertanggung jawab menjaga sistem nilai yang menjadi identitas institusi. Ia mengajak seluruh anggota Polri untuk memahami semangat Polri Presisi dalam konteks kesejarahan, mulai dari pendekatan prediktif, responsibilitas, hingga transparansi berkeadilan. Sejarah, ujarnya, bukan beban masa lalu, melainkan tanggung jawab masa kini untuk menjaga integritas dan identitas bangsa. Tidak heran jika ia mengutip pesan tegas: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
Para narasumber yang dihadirkan juga menunjukkan betapa seriusnya Rakernis ini. Kadiv Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir membawakan materi tentang tantangan komunikasi publik di era digital, termasuk ancaman misinformasi, disinformasi, dan malinformasi. Ia menekankan implementasi Peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2023 tentang fungsi kehumasan. Menurutnya, reputasi Polri terbentuk dari akumulasi kinerja, sikap, dan interaksi personel dengan masyarakat secara konsisten. Sementara itu, Kadiv Propam yang diwakili AKBP Dr. H. Heru Waluyo menambahkan bahwa Tribrata dan Catur Prasetya adalah alat kontrol paling efektif untuk meminimalisir pelanggaran disiplin dan kode etik di lingkungan internal Polri.
Rakernis juga menghadirkan perspektif eksternal dari Komisioner Kompolnas RI Irjen Pol (Purn) Ida Oetari Poernamasari yang mengapresiasi langkah Pusjarah dalam memperkuat peran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Di akhir kegiatan, Pusjarah Polri berharap nilai-nilai dasar kepolisian dapat terus terpelihara dan terinternalisasi dalam setiap pelaksanaan tugas, sekaligus memperkuat pengabdian kepada masyarakat. Dinamika global dan modernisasi memang tidak bisa dihindari, tetapi identitas dan integritas adalah harga mati. Rakernis 2026 menjadi pengingat kolektif bahwa Polri Presisi bukan sekadar target teknis, melainkan amanat sejarah yang harus dirawat bersama. (Avs)

.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar