Selasa, 28 April 2026

Syarat Lulus Tes BLS: Personel Polres Situbondo Harus Bisa Selamatkan Nyawa Sebelum Bantuan Medis Tiba


Polres Situbondo Polda Jatim tidak main-main dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Pada Senin (27/4/2026), Bagian SDM menggelar pelatihan Basic Life Support (BLS) di Rupatama Tantya Sudhirajati dengan menggandeng Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Situbondo sebagai mitra. Yang menjadi sorotan adalah kehadiran dr. Kartika Ikrama Shafirlana, Sp.O.G., yang juga merupakan Ketua Bhayangkari Cabang Situbondo Ny. Lana Bayu AS, serta dr. Budiman Bahagia, Sp.An., dan tim dokter IDI. Kapolres Situbondo AKBP Bayu Anuwar Sidiqie membuka acara dengan pesan tegas: setiap personel yang tidak mampu menunjukkan kemampuan praktik BLS di akhir pelatihan tidak akan diizinkan pulang, karena polisi yang tidak bisa menolong nyawa di menit-menit pertama adalah polisi yang gagal mengemban amanat kemanusiaan.

Pelatihan ini diikuti oleh Pejabat Utama Polres Situbondo, para Kapolsek jajaran, Perwira Staf, serta seluruh anggota Polres yang hadir. Dalam arahannya, Kapolres menjelaskan bahwa sebagai pihak yang kerap menjadi orang pertama di lokasi kejadian (TKP), personel Polri memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pertolongan pertama yang layak sebelum tim medis profesional tiba. Mulai dari kecelakaan lalu lintas, kebakaran, hingga tindak kriminal yang menyebabkan korban luka parah, semuanya membutuhkan respons cepat yang selama ini mungkin tidak terlatih. Dengan pelatihan BLS ini, setiap anggota dibekali teknik dasar seperti memeriksa kesadaran korban, membuka jalan napas, melakukan kompresi dada, serta teknik resusitasi jantung paru (RJP) yang benar.

Sesi praktik berlangsung dengan intensitas tinggi. Para peserta bergantian mempraktikkan RJP pada manekin di bawah pengawasan ketat tim dokter IDI. Setiap kesalahan, seperti posisi tangan yang tidak tepat atau kedalaman kompresi yang kurang dari 5 cm, langsung dikoreksi dan peserta diminta mengulang hingga benar. Dr. Kartika dan tim dokter menunjukkan contoh yang sempurna, lalu membiarkan peserta mencoba berulang kali sampai gerakan mereka otomatis dan sesuai standar medis. Suasana pelatihan sempat tegang, tetapi juga penuh motivasi karena setiap anggota menyadari bahwa ilmu ini bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati seseorang di masa depan. Mereka yang tidak lulus di sesi pertama harus mengikuti remedial praktik hingga memenuhi standar, persis seperti janji Kapolres.

Setelah semua peserta dinyatakan lulus, Kapolres Situbondo menutup acara dengan tiga pesan moral yang mendalam: tingkatkan keimanan dan ketakwaan agar setiap tindakan bernilai ibadah, niatkan setiap tugas sebagai bentuk pengabdian, dan jangan pernah bosan bersyukur atas setiap keberhasilan. Dengan bekal BLS dari IDI, Polres Situbondo kini memiliki personel yang tidak hanya tangguh dalam menegakkan hukum, tetapi juga tanggap dalam menyelamatkan nyawa. Ke depan, kemampuan ini akan terus diasah melalui pelatihan berkala, karena menyelamatkan satu nyawa sama mulianya dengan menyelamatkan umat manusia seluruhnya. Polres Situbondo membuktikan bahwa transformasi Polri menuju presisi mencakup juga kesiapan medis di garis depan, karena polisi sejati adalah pelindung yang hadir di saat terburuk dalam hidup seseorang.(Avs)

0 comments:

Posting Komentar