Slide # 1

INFINIX

To put the future in the hands of the people who want it and need it most Read More

Slide # 2

INFINIX

FTo put the future in the hands of the people who want it and need it most Read More

Slide # 3

INFINIX

To put the future in the hands of the people who want it and need it most Read More

Slide # 4

INFINIX

To put the future in the hands of the people who want it and need it most Read More

Slide # 5

INFINIX

To put the future in the hands of the people who want it and need it most Read More

Kamis, 30 April 2026

Polres Nganjuk: Keamanan Bukan Hanya Tugas Polisi, Sabuk Kamtibmas Buktikan Kekuatan Kolaborasi Masyarakat


"Keamanan adalah tanggung jawab kita semua." Frasa itu mungkin sering terdengar, tetapi Polres Nganjuk membuktikannya dalam aksi nyata. Kamis (30/4/2026), di lapangan apel Polres Nganjuk, digelar Apel Besar Sabuk Kamtibmas Tahun 2026 yang diikuti oleh Wakapolres, pejabat utama, anggota Polres, serta perwakilan dari berbagai elemen masyarakat: tokoh perguruan silat se-Kabupaten Nganjuk, SATGAS PALMERA, PAMTER, BANSER, SENKOM, dan komunitas ojek online. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menegaskan bahwa apel ini adalah langkah konkret membangun jejaring keamanan yang solid hingga tingkat komunitas, karena situasi kamtibmas yang aman tidak bisa diwujudkan hanya oleh Polri semata.

Tema apel ini sangat relevan dengan kondisi terkini: "Mewujudkan Sinergitas Polda Jawa Timur Bersama Sabuk Kamtibmas dan Potensi Masyarakat dalam Menjaga Stabilitas Keamanan, Ketertiban, dan Keutuhan Sosial di Wilayah Jawa Timur." Dalam amanat Kapolda Jatim yang dibacakan, disebutkan bahwa ke depan akan ada beragam tantangan, mulai dari konflik sosial, hoaks dan propaganda digital, radikalisme, intoleransi, bencana alam, karhutla, hingga gangguan ketertiban yang berpotensi menghambat pembangunan. Karena itu, seluruh unsur Sabuk Kamtibmas diminta menjadi pengikat persatuan sosial, penguat deteksi dini, pelindung masyarakat dari konflik, sekaligus benteng bersama menjaga stabilitas daerah. Ini bukan sekadar imbauan, tetapi panggilan untuk bertindak.

Kapolres Nganjuk menambahkan bahwa kehadiran tokoh perguruan silat, organisasi masyarakat, relawan komunikasi, hingga komunitas ojol menunjukkan bahwa menjaga keamanan wilayah adalah tanggung jawab bersama. "Kami ingin seluruh komponen ini menjadi agen pendingin di tengah masyarakat, mampu menangkal provokasi, meredam potensi gesekan, serta menjadi mitra strategis Polres Nganjuk dalam menjaga ruang publik tetap aman, damai, dan produktif," ujarnya. Sinergitas yang dibangun tidak boleh berhenti pada kegiatan apel, tetapi harus berlanjut dalam komunikasi aktif, pertukaran informasi, dan langkah cepat saat muncul potensi kerawanan. Ego kelembagaan harus dikesampingkan.

Dengan rapatnya barisan Sabuk Kamtibmas di Kabupaten Nganjuk, Polres Nganjuk berharap tercipta stabilitas keamanan yang semakin kokoh sebagai modal utama pembangunan daerah, pertumbuhan ekonomi, dan kenyamanan masyarakat dalam beraktivitas. Semangat kebersamaan antara Polri dan seluruh potensi masyarakat ini menjadi pesan kuat bahwa kondusivitas wilayah hanya dapat terjaga apabila semua unsur bergerak dalam satu tujuan yang sama. Sabuk Kamtibmas bukan sekadar nama program, tetapi gerakan hati dari ribuan orang yang sadar bahwa keamanan adalah hak bersama, dan menjaganya adalah kewajiban bersama.(Avs)

Jogo Jatim Bersama 186 Ribu Mitra: Apel Sabuk Kamtibmas, Bukti Polri Tidak Bisa Sendirian Jaga Keamanan


Seorang polisi mungkin tegas, tetapi 186 ribu mitra dari berbagai elemen masyarakat adalah kekuatan yang tak terbantahkan. Polda Jawa Timur memahami betul filosofi itu, sehingga mereka menggelar apel besar Sabuk Kamtibmas di Mapolda Jatim, Kamis (30/4/2026), dipimpin langsung Waka Polda Jatim Brigjen Pol Pasma Royce. Sebanyak 1.980 perwakilan hadir secara fisik, mewakili total 186.784 mitra yang tersebar di seluruh Jatim. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Jules Abraham Abast menjelaskan bahwa Sabuk Kamtibmas adalah implementasi dari program "Jogo Jatim" yang diinisiasi Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto, dengan prinsip bahwa keamanan adalah tanggung jawab bersama.

Siapa saja yang tergabung dalam jaringan seluas ini? Kombes Abast merinci: organisasi pencak silat, Banser, Kokam, Pemuda Pancasila, hingga komunitas ojek online (ojol). Semua elemen ini, menurutnya, memiliki peran penting dalam membantu tugas kepolisian. Mereka dilibatkan dalam pengamanan markas komando secara statis, pengamanan aksi unjuk rasa secara dinamis, hingga menghadapi potensi konflik sosial, penyebaran hoaks, dan dinamika geopolitik yang bisa berdampak pada keamanan daerah. Dengan jaringan seluas ini, polisi memiliki mata dan telinga di setiap sudut masyarakat, sehingga potensi gangguan dapat dideteksi lebih awal dan ditangani sebelum meluas.

Polda Jatim dalam apel ini menekankan lima poin penting yang menjadi komitmen bersama. Pertama, memperkuat pencegahan gangguan keamanan daripada sekadar menindak. Kedua, menghilangkan ego sektoral yang sering menjadi sumber konflik. Ketiga, meningkatkan koordinasi lintas wilayah karena Jatim adalah provinsi yang luas dengan keragaman budaya. Keempat, memastikan peran aktif Kapolres dan pengawas wilayah dalam menjaga stabilitas daerah. Kelima, mitigasi bencana dan krisis sosial, termasuk antisipasi kebakaran hutan dan lahan serta potensi konflik horizontal. Dengan poin-poin ini, Sabuk Kamtibmas menjadi gerakan yang strategis dan berjangka panjang.

Kombes Abast mengajak seluruh elemen untuk menjaga ruang demokrasi tetap sehat dan damai, bebas dari provokasi dan aksi anarkisme. Ia menegaskan bahwa tanpa stabilitas keamanan, pembangunan dan investasi di Jatim tidak akan optimal, yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Karena itu, Sabuk Kamtibmas tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial, melainkan gerakan nyata berkelanjutan hingga tingkat desa dan kelurahan. Jika Polri dan seluruh komponen masyarakat bergerak bersama, setiap potensi ancaman dapat dikelola menjadi kekuatan persatuan untuk Jawa Timur yang tangguh. Inilah energi baru menjaga keamanan yang inklusif, kolaboratif, dan membumi.(Avs)

Kombes Abast: Polda Jatim Siapkan Pengamanan May Day 2026 dengan Prinsip Pelayanan, Bukan Penindakan


Satu hari sebelum 1 Mei, suasana di Polda Jawa Timur terasa berbeda. Bukan persiapan perang melawan demonstran, tetapi justru koordinasi hangat dengan para koordinator buruh. Kamis (30/4/2026), Kabid Humas Kombes Pol Jules Abraham Abast menyampaikan bahwa Polda Jatim telah menyiapkan layanan pengamanan maksimal untuk peringatan Hari Buruh Internasional, dengan prinsip utama: pelayanan, bukan penindakan. Ini adalah pernyataan penting yang mengubah narasi hubungan antara polisi dan buruh di Jawa Timur. Kombes Abast menegaskan bahwa pihaknya terus bersinergi dengan pimpinan elemen buruh, termasuk mengawal perwakilan mereka yang akan berangkat ke Jakarta.

Apa artinya pelayanan pengamanan? Menurut Kombes Abast, itu berarti kepolisian hadir untuk memfasilitasi, bukan menghalangi. Jika ada elemen buruh yang menggelar perayaan di suatu daerah, polisi akan mengawal dan memastikan kegiatan tersebut berlangsung tertib. Jika ada yang membutuhkan pengamanan rute atau izin keramaian, polisi akan membantu mengurusnya selama masih dalam koridor hukum. Pendekatan ini berbeda jauh dengan gaya pengamanan masa lalu yang cenderung represif. Dengan sinergi yang sudah dibangun, diharapkan tidak ada lagi insiden bentrok yang mencoreng makna perjuangan buruh.

Kombes Abast juga menekankan bahwa komitmen Polda Jatim mencakup seluruh wilayah provinsi, tidak hanya Kota Surabaya. Setiap kabupaten dan kota di Jatim yang memiliki kegiatan May Day akan mendapatkan pengamanan proporsional, setelah dilakukan pemetaan titik kegiatan. Jumlah personel yang diterjunkan akan dipastikan setelah apel kesiapan, tetapi yang jelas kualitas pelayanan lebih diutamakan daripada kuantitas personel. "Kami berikan pelayanan semaksimal mungkin," ujarnya. Pernyataan ini sekaligus mengirim pesan kepada masyarakat bahwa polisi siap menjadi mitra buruh dalam menjaga stabilitas daerah.

Dengan kesiapan dan semangat pelayanan yang telah dicanangkan, Polda Jatim berharap peringatan May Day 2026 dapat berlangsung aman, damai, dan kondusif. Momentum ini diharapkan menjadi ajang dialog konstruktif antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah, dengan polisi sebagai pengaman yang netral namun humanis. Jika berhasil, maka tahun ini akan menjadi tonggak baru dalam hubungan antara aparat dan buruh di Jawa Timur. Selamat May Day 2026, semoga aspirasi tersampaikan dengan tertib dan keamanan tetap terjaga untuk semua.(Avs)

Aipda Jupri dan Misi Swasembada Pangan: Bhabinkamtibmas Juwono Jadi Penghubung Petani dengan Kesejahteraan


Siapa bilang polisi hanya bisa turun tangan saat ada kejahatan? Aipda Mukhamad Jupri, Bhabinkamtibmas Desa Juwono, Polsek Kertosono, Nganjuk, membuktikan bahwa tugasnya jauh lebih luas dari itu. Kamis (30/4/2026), ia kembali turun ke ladang dan sawah untuk mendampingi petani binaannya, sekaligus memantau pemanfaatan lahan sela yang ditanami cabai serta persawahan yang menjadi sumber pangan utama warga. Ini adalah bagian dari misi besar Polri dalam mendukung program ketahanan pangan nasional dan peningkatan swasembada pangan, dimulai dari desa-desa seperti Juwono. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menyebut sinergi antara Bhabinkamtibmas dan petani sebagai faktor kunci keberhasilan program ini.

Di balik setiap tanaman cabai yang tumbuh di lahan sela dan setiap bulir padi di persawahan, ada kerja keras dan pendampingan yang tidak pernah putus dari Aipda Jupri. Ia tidak hanya hadir untuk memeriksa, tetapi juga untuk berdiskusi, mencari solusi, dan memberikan motivasi. Ketika petani mengeluh tentang hama, ia segera berkoordinasi dengan penyuluh pertanian. Ketika ada yang kesulitan air, ia mencari cara untuk mengoptimalkan irigasi yang ada. Kapolres Nganjuk menegaskan bahwa kehadiran anggota di tengah petani adalah bentuk nyata dari komitmen Polri untuk memastikan setiap potensi pertanian dapat dikelola secara maksimal.

Kapolsek Kertosono Kompol Joni Suprapto mengungkapkan kebanggaannya terhadap kegigihan Aipda Jupri. "Kami berharap anggota tidak hanya hadir menjaga keamanan, tetapi juga menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat. Aipda Jupri adalah contoh nyata bahwa Bhabinkamtibmas bisa menjadi sahabat petani yang selalu dirindukan kehadirannya," ujarnya. Menurutnya, pendampingan yang berkelanjutan seperti inilah yang akan membuat program ketahanan pangan di tingkat desa benar-benar berhasil, bukan sekadar program seremonial yang selesai dalam satu kali kunjungan.

Melalui kegiatan pendampingan yang rutin dilakukan Aipda Jupri, diharapkan Desa Juwono dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam mengoptimalkan lahan pertanian, baik lahan sela maupun persawahan. Cabai memberikan nilai tambah ekonomi, sementara padi menjamin ketahanan pangan pokok. Dengan kombinasi yang tepat, kesejahteraan petani akan meningkat, dan swasembada pangan nasional akan terwujud dari tingkat desa. Inilah warisan nyata dari seorang Bhabinkamtibmas yang memilih untuk berdampingan dengan petani di ladang, bukan hanya duduk nyaman di balik meja kantor.(Avs)

Rabu, 29 April 2026

Bripka Yuli dan Kebun Jagung di Tengah Hutan: Kisah Bhabinkamtibmas yang Menginspirasi Nganjuk

Di sela-sela pepohonan yang masih rimbun di Desa Ngadipiro, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, kini terdapat hamparan tanaman jagung yang tumbuh subur. Ini adalah hasil inovasi warga yang didampingi langsung oleh Bhabinkamtibmas Bripka Yuli. P. Kamis (30/4/2026), Bripka Yuli kembali turun ke lokasi untuk memantau perkembangan tanaman sekaligus berdialog dengan petani tentang tantangan yang mereka hadapi. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menyebut pemanfaatan lahan kehutanan untuk budidaya jagung ini sebagai langkah produktif yang mendukung program ketahanan pangan nasional, sekaligus mengoptimalkan lahan yang selama ini kurang termanfaatkan.

Apa yang dilakukan Bripka Yuli bukan sekadar tugas tambahan, melainkan sebuah kesadaran bahwa ketahanan pangan dimulai dari desa. Jagung dipilih karena mudah dibudidayakan, tahan terhadap kondisi lahan tertentu, dan memiliki nilai ekonomi yang baik. Di lapangan, Bripka Yuli tidak hanya melakukan pengecekan, tetapi juga mendengarkan keluhan warga soal keterbatasan pupuk, serangan hama, dan akses ke pasar. Kapolres Nganjuk menegaskan bahwa Polri melalui Bhabinkamtibmas terus mendorong masyarakat untuk melihat potensi di sekitarnya, termasuk lahan kehutanan, yang dapat dimanfaatkan secara bijak tanpa merusak ekosistem.

Kapolsek Wilangan AKP Muh. Fatoni menambahkan bahwa pihaknya telah menginstruksikan seluruh Bhabinkamtibmas untuk aktif dalam pendampingan sektor produktif masyarakat. "Kami mendukung penuh langkah anggota di lapangan dalam memberikan motivasi dan pendampingan kepada warga. Tujuannya agar pemanfaatan lahan yang ada bisa memberikan hasil nyata bagi ketahanan pangan keluarga," jelasnya. Program ini menjadi bukti bahwa peran polisi tidak berhenti pada penjagaan malam atau pengaturan lalu lintas, tetapi merambah ke sektor-sektor strategis yang menyentuh langsung kebutuhan pokok masyarakat.

Melalui kegiatan pemantauan yang rutin dilakukan Bripka Yuli, diharapkan kebun jagung di tengah kawasan kehutanan ini dapat terus berkembang dan menginspirasi desa-desa lain di Nganjuk. Bukan hanya tentang jagung, tetapi tentang bagaimana seorang Bhabinkamtibmas bisa menjadi katalis perubahan yang mengubah lahan tidur menjadi sumber kesejahteraan. Jika gerakan ini meluas, maka ketahanan pangan nasional bukan lagi sekadar program dari pusat, melainkan gerakan akar rumput yang hidup dan tumbuh dari inisiatif masyarakat bersama pendamping dari Polri.(Avs)

Polantas Menyapa: Saat Aiptu Didik Berdialog Hangat dengan Komunitas Motor Nganjuk soal Tanggung Jawab di Jalan


Kamis (30/4/2026) menjadi hari yang berbeda bagi sejumlah remaja Gen Z dan anggota komunitas motor di Nganjuk. Mereka tidak sedang berkumpul untuk konvoi atau balapan liar, melainkan mengikuti program Polantas Menyapa dari Satlantas Polres Nganjuk yang langsung dipandu oleh Aiptu Didik. Kegiatan ini dirancang sebagai langkah preventif untuk membangun kesadaran keselamatan berkendara pada kelompok usia produktif yang dinilai memiliki mobilitas tinggi sekaligus rentan terhadap pelanggaran lalu lintas. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menegaskan bahwa generasi muda dan komunitas motor adalah mitra strategis dalam menciptakan keamanan dan kelancaran lalu lintas.

Dalam sesi yang berlangsung santai namun serius, Aiptu Didik mengajak para peserta berdiskusi tentang berbagai hal yang sering menjadi masalah di jalan raya. Mulai dari penggunaan helm standar, larangan knalpot tidak sesuai spesifikasi, bahaya kebut-kebutan, kepatuhan terhadap marka dan rambu lalu lintas, hingga pentingnya memiliki surat kendaraan yang lengkap. Kapolres Nganjuk menyampaikan bahwa dirinya ingin anak-anak muda di Nganjuk memiliki kesadaran bahwa berkendara bukan hanya soal gaya, tetapi soal tanggung jawab hukum dan keselamatan. Jika Gen Z dan komunitas motor tertib, maka budaya disiplin di jalan akan lebih cepat terbentuk.

Kasat Lantas Polres Nganjuk AKP Ivan Danara Oktavian menambahkan bahwa pendekatan persuasif ini sengaja dipilih agar pesan keselamatan lebih mudah diterima oleh generasi muda yang tidak suka digurui. "Kami hadir bukan hanya menindak, tetapi juga menjadi sahabat bagi generasi muda untuk bersama-sama membangun budaya tertib berlalu lintas," jelasnya. Ia juga menekankan bahwa keselamatan harus menjadi identitas baru anak muda dan komunitas motor, bukan sekadar gaya atau gengsi. Dengan metode dialogis, para peserta dapat langsung bertanya dan berdiskusi tentang berbagai persoalan lalu lintas yang kerap mereka temui di lapangan, sehingga solusi yang diberikan terasa lebih konkret.

Melalui program Polantas Menyapa ini, Satlantas Polres Nganjuk berharap para remaja dan anggota komunitas motor yang telah tersentuh edukasi dapat menjadi pelopor keselamatan di lingkungan masing-masing. Mereka diharapkan tidak hanya tertib sendiri, tetapi juga menjadi agen perubahan yang menumbuhkan kepatuhan hukum di antara teman sebaya dan masyarakat luas. Ini bukan sekadar program musiman, melainkan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi muda yang sadar bahwa keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama. Semoga program seperti ini terus berlanjut dan menginspirasi daerah lain di Indonesia.(Avs)

Bukan Hanya May Day: Evaluasi Baharkam Polri dan Kemenko Polkam Ungkap Kelemahan Sistemik Pengamanan Obvitnas


Cibubur, Bekasi, menjadi saksi pertemuan penting antara Korps Sabhara Baharkam Polri dan Kemenko Polkam pada Rabu (29/4/2026) di Hotel Avanzel. Rapat koordinasi evaluasi pengamanan Objek Vital Nasional (Obvitnas) yang dipimpin Deputi Bidang Kamtibmas Kemenko Polkam, Irjen Pol S. Tarigan, serta didampingi Asdep 1 Brigjen TNI Muhamad Sujono ini mengungkap kelemahan sistemik yang selama ini luput dari perhatian. Di hadapan perwakilan Kementerian Perindustrian, Pariwisata, Perhubungan, PUPR, dan ESDM, terungkap bahwa masih banyak pengelola Obvitnas yang belum menerapkan Sistem Manajemen Pengamanan (SMP) secara baku karena belum ada regulasi yang mewajibkan.

Kasubdit Pamwaster Ditpamobvit Korsabhara Baharkam Polri, KBP Waluya, memaparkan data komprehensif bahwa tanpa standar yang mengikat, keamanan aset-aset strategis nasional berada dalam ancaman serius. Rapat ini pun menyimpulkan tiga poin utama: revitalisasi regulasi, validasi data ulang jumlah Obvitnas, serta penguatan koordinasi menjelang May Day. Kementerian teknis didorong untuk meningkatkan fungsi pengawasan dan pengendalian (wasdal) terhadap kepatuhan penerapan SMP. Regulasi lama, terutama di sektor Perhubungan (2004) dan Pariwisata (2016), harus segera direvisi agar relevan dengan ancaman masa kini yang kian kompleks.

Poin kedua yang tidak kalah penting adalah rencana validasi ulang data Obvitnas di tiap kementerian. Selama ini, ketidakakuratan data menjadi salah satu penghambat dalam menyusun strategi pengamanan yang efektif. Setelah data valid diperoleh, langkah selanjutnya adalah memastikan setiap Obvitnas memiliki MoU atau Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Polri. Dengan demikian, tidak ada lagi objek vital yang beroperasi tanpa pendampingan keamanan dari aparat yang berwenang. Langkah ini diyakini akan menutup celah-celah yang selama ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin mengganggu stabilitas nasional.

Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional, rapat juga menyoroti kesiapan pengamanan internal di kawasan Obvitnas. Koordinasi antara pengelola objek vital dan Polri harus diperkuat agar situasi tetap kondusif selama aksi massa buruh berlangsung. Pimpinan rapat menegaskan bahwa evaluasi ini bukan agenda rutin biasa, melainkan langkah proaktif menciptakan ekosistem investasi dan operasional industri yang aman, nyaman, dan terlindungi. Polri bersama Kemenko Polkam berkomitmen untuk terus mengawal implementasi hasil rapat ini demi kemajuan ekonomi nasional. Semoga dengan langkah ini, tidak ada lagi aset negara yang menjadi korban karena lemahnya sistem pengamanan.(Avs)

May Day 2026 di Sidoarjo: 1.200 Personel Polresta Siaga dengan Pendekatan Persuasif


Suasana berbeda terasa di Lapangan Mako Polresta Sidoarjo saat apel kesiapan digelar pada Rabu (29/4/2026) sore. Wakapolresta AKBP Mohammad Zainur Rofik secara resmi mengumumkan pengerahan 1.200 personel untuk pelayanan pengamanan peringatan Hari Buruh Internasional 2026. Tidak ketinggalan, Electronic Tactical Game (ETG) turut dimainkan sebagai simulasi taktis menghadapi berbagai kemungkinan aksi massa. Seluruh sarana dan prasarana diperiksa ketat, memastikan bahwa tidak ada kekurangan yang dapat menghambat tugas di lapangan. Peta penempatan personel di titik-titik strategis pun telah rampung disusun.

Kesiapsiagaan 1.200 personel ini menjadi bukti komitmen Polresta Sidoarjo dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. AKBP Zainur Rofik mengingatkan setiap anggota untuk selalu waspada, disiplin, dan siap siaga kapan saja, namun tetap bertindak sesuai dengan standar operasional prosedur yang telah ditetapkan. Pendekatan proporsional dan profesional menjadi kunci agar tugas pengamanan tidak berubah menjadi tindakan represif yang kontraproduktif. Dengan jumlah sebesar itu, koordinasi antar personel menjadi faktor utama keberhasilan pengamanan May Day 2026.

Yang paling membedakan pengamanan tahun ini adalah instruksi untuk mengedepankan pendekatan humanis dan persuasif dalam melayani massa aksi. Wakapolresta Sidoarjo secara lugas menyampaikan bahwa personel harus menjadi pelayan aspirasi, bukan penghalang yang menakutkan. Filosofi ini lahir dari evaluasi tahun-tahun sebelumnya di mana ketegangan sering timbul akibat komunikasi yang kurang baik. Dengan 1.200 personel yang tersebar, Polresta berharap para buruh dan pekerja merasa aman dan didengarkan saat menyampaikan tuntutannya.

Penegasan terakhir dari AKBP Zainur Rofik menjadi penutup yang menenangkan publik. Ia memastikan bahwa pelayanan pengamanan May Day 2026 akan berlangsung humanis tanpa menurunkan kewaspadaan. Masyarakat diminta tidak terprovokasi isu-isu yang dapat memecah belah, karena Polresta Sidoarjo telah menyiapkan segalanya dengan matang. Semoga momentum Hari Buruh tahun ini menjadi ajang dialog konstruktif antara pekerja, pemerintah, dan aparat keamanan. Dengan semangat kebersamaan, Sidoarjo tetap aman dan kondusif.(Avs)

Selasa, 28 April 2026

Satu Bulan Sebelum Idul Adha, Bhabinkamtibmas Wates Beri 'Vitamin' untuk Peternak Bukan Kambing


Yang diberi vitamin oleh AIPTU Gunardi di Desa Wates bukanlah kambing-kambing gemuk yang berdiri di kandang, melainkan para peternaknya sendiri yang selama ini kurang mendapat penyuluhan tentang manajemen kesehatan hewan menjelang musim kurban. Sebagai Bhabinkamtibmas sekaligus penggerak ketahanan pangan, ia memanfaatkan momen H-30 Idul Adha 1447 H untuk memastikan setiap warga binaannya mampu merawat kambing dengan benar dan tidak panik saat ternak menunjukkan gejala sakit.

Pengetahuan yang disampaikan oleh aparat kepolisian ini ternyata lebih praktis dan membumi dibandingkan buku-buku peternakan yang sulit dipahami oleh peternak skala rumah tangga. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menjelaskan bahwa pendampingan yang dilakukan anggota di desa binaan adalah transfer ilmu langsung yang disesuaikan dengan kondisi riil kandang warga, bukan sekadar teori dari balik meja.

AIPTU Gunardi dengan sabar mengajarkan cara memeriksa denyut jantung kambing hanya dengan meletakkan telapak tangan di dada kiri hewan, serta trik sederhana melihat kesehatan dari warna gusi dan kelembaban hidung. Peternak yang tadinya cuek kini mulai rajin mencatat jadwal pemberian pakan dan membersihkan kandang setiap pagi karena mereka sadar bahwa kesehatan kambing adalah cerminan kepedulian mereka terhadap ibadah kurban.

Kompol H. Ahmad Junaedi menambahkan bahwa pendekatan edukasi seperti ini lebih efektif daripada sekadar memberi imbauan karena peternak yang paham akan merawat ternaknya dengan penuh kesadaran, bukan karena rasa takut.(Avs)

Cabai, Terong, dan Tomat Jadi Senjata Baru Warga Sambirejo Lawan Krisis Pangan

Di tengah gencarnya isu kerawanan pangan, warga Desa Sambirejo justru menemukan senjata rahasia mereka: tiga jenis sayuran yang ditanam di pekarangan sendiri. BRIPTU M. N. R Bayu Segara, Bhabinkamtibmas setempat, secara intensif memantau perkembangan tanaman cabai, terong, dan tomat milik warga binaannya sebagai langkah konkret menghadirkan sumber pangan yang tidak tergantung pada rantai pasok eksternal.

Krisis pangan nasional tidak terasa begitu menekan karena setiap rumah tangga sudah memiliki cadangan sayuran segar yang bisa dipanen kapan saja. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan mengungkapkan bahwa program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) yang didampingi Bhabinkamtibmas ini adalah benteng pertama melawan lonjakan harga dan kelangkaan komoditas di pasar.

Tomat dan terong yang mudah tumbuh di berbagai kondisi tanah menjadi primadona, sementara cabai rawit yang kerap meroket harganya di pasar kini bisa dipetik langsung dari halaman sendiri tanpa keluar uang sepeser pun. BRIPTU Bayu tidak hanya berhenti pada pemantauan, tapi juga memberikan edukasi tentang rotasi tanam agar lahan tidak cepat rusak dan hasil panen bisa berlangsung sepanjang tahun.

Kompol H. Ahmad Junaedi menambahkan bahwa pendampingan seperti ini akan terus digalakkan karena ketahanan pangan bukanlah mimpi besar, melainkan kebiasaan kecil merawat pekarangan yang dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan.(Avs)

Syarat Lulus Tes BLS: Personel Polres Situbondo Harus Bisa Selamatkan Nyawa Sebelum Bantuan Medis Tiba


Polres Situbondo Polda Jatim tidak main-main dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Pada Senin (27/4/2026), Bagian SDM menggelar pelatihan Basic Life Support (BLS) di Rupatama Tantya Sudhirajati dengan menggandeng Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Situbondo sebagai mitra. Yang menjadi sorotan adalah kehadiran dr. Kartika Ikrama Shafirlana, Sp.O.G., yang juga merupakan Ketua Bhayangkari Cabang Situbondo Ny. Lana Bayu AS, serta dr. Budiman Bahagia, Sp.An., dan tim dokter IDI. Kapolres Situbondo AKBP Bayu Anuwar Sidiqie membuka acara dengan pesan tegas: setiap personel yang tidak mampu menunjukkan kemampuan praktik BLS di akhir pelatihan tidak akan diizinkan pulang, karena polisi yang tidak bisa menolong nyawa di menit-menit pertama adalah polisi yang gagal mengemban amanat kemanusiaan.

Pelatihan ini diikuti oleh Pejabat Utama Polres Situbondo, para Kapolsek jajaran, Perwira Staf, serta seluruh anggota Polres yang hadir. Dalam arahannya, Kapolres menjelaskan bahwa sebagai pihak yang kerap menjadi orang pertama di lokasi kejadian (TKP), personel Polri memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pertolongan pertama yang layak sebelum tim medis profesional tiba. Mulai dari kecelakaan lalu lintas, kebakaran, hingga tindak kriminal yang menyebabkan korban luka parah, semuanya membutuhkan respons cepat yang selama ini mungkin tidak terlatih. Dengan pelatihan BLS ini, setiap anggota dibekali teknik dasar seperti memeriksa kesadaran korban, membuka jalan napas, melakukan kompresi dada, serta teknik resusitasi jantung paru (RJP) yang benar.

Sesi praktik berlangsung dengan intensitas tinggi. Para peserta bergantian mempraktikkan RJP pada manekin di bawah pengawasan ketat tim dokter IDI. Setiap kesalahan, seperti posisi tangan yang tidak tepat atau kedalaman kompresi yang kurang dari 5 cm, langsung dikoreksi dan peserta diminta mengulang hingga benar. Dr. Kartika dan tim dokter menunjukkan contoh yang sempurna, lalu membiarkan peserta mencoba berulang kali sampai gerakan mereka otomatis dan sesuai standar medis. Suasana pelatihan sempat tegang, tetapi juga penuh motivasi karena setiap anggota menyadari bahwa ilmu ini bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati seseorang di masa depan. Mereka yang tidak lulus di sesi pertama harus mengikuti remedial praktik hingga memenuhi standar, persis seperti janji Kapolres.

Setelah semua peserta dinyatakan lulus, Kapolres Situbondo menutup acara dengan tiga pesan moral yang mendalam: tingkatkan keimanan dan ketakwaan agar setiap tindakan bernilai ibadah, niatkan setiap tugas sebagai bentuk pengabdian, dan jangan pernah bosan bersyukur atas setiap keberhasilan. Dengan bekal BLS dari IDI, Polres Situbondo kini memiliki personel yang tidak hanya tangguh dalam menegakkan hukum, tetapi juga tanggap dalam menyelamatkan nyawa. Ke depan, kemampuan ini akan terus diasah melalui pelatihan berkala, karena menyelamatkan satu nyawa sama mulianya dengan menyelamatkan umat manusia seluruhnya. Polres Situbondo membuktikan bahwa transformasi Polri menuju presisi mencakup juga kesiapan medis di garis depan, karena polisi sejati adalah pelindung yang hadir di saat terburuk dalam hidup seseorang.(Avs)

Jembatan Ambles Nyaris Putus Akses Warga, Polres Ngawi Sigap Bangun Jembatan Merah Putih Presisi


Ketika jembatan satu-satunya di Dusun Blandongan, Ngawi, mulai menunjukkan tanda-tanda akan ambruk, warga merasa seperti terisolasi dari dunia luar. Anak-anak takut berangkat sekolah, ibu hamil cemas setiap kali harus ke puskesmas, dan hasil panen sering terlambat diangkut karena kendaraan roda dua pun ragu melintas. Namun Rabu (29/4/26) menjadi saksi kebahagiaan yang meledak: Polres Ngawi merampungkan perbaikan Jembatan Merah Putih Presisi dalam waktu kurang lebih satu minggu, mengubah akses yang mematikan menjadi jalur yang aman, kokoh, dan bahkan dicat lebih cantik. Kepala Desa Eko Budi Sudarmanto mewakili warganya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolres Ngawi AKBP Prayoga Angga Widyatama, yang dinilai luar biasa peduli pada keselamatan warga kecil.

Sebelum diperbaiki, jembatan ini adalah pemandangan yang menyedihkan. Struktur betonnya retak di berbagai titik, beberapa sambungan baja sudah berkarat dan longgar, sementara pagar pengaman nyaris tidak ada karena sebagian besar telah patah atau miring. Setiap kali hujan deras, warga bergantian berjaga di ujung jembatan untuk mencegah anak-anak mencoba menyeberang sendirian. Perbaikan yang dilakukan Polres Ngawi tidak hanya bersifat tambal sulam, tetapi revitalasi total: fondasi diperkuat, pagar baru dipasang hingga ke ujung, dan cat merah putih segar membuat jembatan ini tampak seperti ikon kebanggaan desa. Warga yang dulu menghindari jembatan kini justru sering berfoto di atasnya.

Kepala Desa Eko Budi Sudarmanto mengungkapkan rasa syukur yang tak terkira. Ia menceritakan bahwa selama bertahun-tahun, usulan perbaikan jembatan selalu terkendala anggaran. Namun Polres Ngawi datang tanpa diminta, bergerak cepat, dan menyelesaikan pekerjaan dalam hitungan hari. Anak-anak sekarang bisa berangkat sekolah dengan senyum, tanpa rasa takut jembatan akan goyah di bawah kaki mereka. Para petani yang setiap pagi membawa hasil kebun ke pasar juga lebih bersemangat karena akses yang aman menghemat waktu dan tenaga. Kapolres Ngawi, menurutnya, telah membuktikan bahwa Polri adalah sahabat rakyat yang sesungguhnya.

Kapolres Ngawi AKBP Prayoga Angga Widyatama menjelaskan bahwa perbaikan infrastruktur berdampak langsung pada masyarakat adalah wujud komitmen Polri untuk memberikan pelayanan terbaik di segala bidang, tidak hanya keamanan. Jembatan Merah Putih Presisi ini diharapkan dapat menunjang aktivitas warga serta meningkatkan keselamatan, karena tidak ada yang lebih penting bagi Polri selain nyawa dan kesejahteraan masyarakat. Dengan selesainya perbaikan ini, konektivitas antar warga semakin lancar, dan diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi serta kelancaran pendidikan di Dusun Blandongan. Polri akan terus hadir di tengah masyarakat untuk memberikan kontribusi nyata, dan jembatan ini adalah bukti bahwa kepedulian tidak selalu harus diumumkan dengan pengeras suara, tetapi cukup diwujudkan dengan tindakan nyata yang membuat warga menangis haru.(Avs)

Dari Pengajian ke Jalan Raya: Polantas Nganjuk Tanamkan Disiplin Lalu Lintas pada Remaja Masjid


Biasanya, polisi yang bertugas di acara keagamaan hanya fokus pada pengamanan dan pengaturan arus. Namun Satlantas Polres Nganjuk melalui program Polantas Menyapa melakukan lebih dari itu. Rabu (29/4/2026), saat mengamankan pengajian di Masjid Nurul Huda, Kecamatan Tanjunganom, para anggota menyelipkan sesi edukasi lalu lintus kepada remaja peserta. Mereka berbicara tentang penggunaan helm yang benar, bahaya berboncengan tiga, serta pentingnya memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sebelum mengendarai motor. Yang menarik, materi disampaikan dengan analogi-analogi sederhana yang dekat dengan keseharian remaja, sehingga mudah dipahami dan diingat.

Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menegaskan bahwa pembinaan kepada remaja tidak harus selalu di ruang formal. Kegiatan keagamaan, menurutnya, adalah media yang sangat efektif karena remaja datang dalam keadaan rileks dan terbuka. Ia ingin generasi muda memahami bahwa tertib berlalu lintas bukan semata-mata untuk menghindari tilang, tetapi untuk menyelamatkan nyawa. Dengan pendekatan santun di lingkungan yang sudah mereka akrabi, pesan keselamatan lebih mudah meresap ke dalam hati dan pikiran. Ini adalah strategi jangka panjang Polri untuk menciptakan budaya lalu lintas yang lebih baik melalui pembentukan karakter sejak dini.

Di lapangan, anggota Satlantas tidak hanya memberikan ceramah satu arah. Mereka membuka ruang diskusi, mendengarkan keluhan remaja tentang kondisi jalan yang rusak, kurangnya penerangan di beberapa titik rawan, hingga kebiasaan orang tua yang kerap tidak menggunakan helm. Beberapa remaja juga bertanya tentang prosedur pembuatan SIM dan biayanya, karena mereka ingin mulai berkendara secara legal. Kasat Lantas AKP Ivan Danara Oktavian menambahkan bahwa respons seperti ini adalah indikator keberhasilan program Polantas Menyapa: remaja tidak hanya mendengar, tetapi juga berpikir dan berniat untuk berubah. Edukasi kepada remaja sangat penting karena mereka adalah pengendara masa depan yang saat ini sedang membentuk kebiasaan berkendara mereka.

Melalui kegiatan yang menggabungkan pengamanan dan edukasi ini, Satlantas Polres Nganjuk berharap terlahir generasi muda yang sadar hukum, disiplin, dan mampu menjadi pelopor keselamatan di lingkungan masing-masing. Mereka bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya, mengingatkan teman-temannya, bahkan menegur orang dewasa yang melanggar aturan di jalan. Polantas Nganjuk berencana untuk mengadakan kegiatan serupa di masjid-masjid lain secara rutin, karena mereka percaya bahwa perubahan budaya lalu lintas yang berkelanjutan dimulai dari komunitas terkecil sekalipun. Bukan dengan ketakutan akan denda, tetapi dengan kesadaran bahwa setiap nyawa di jalan adalah berharga dan layak dilindungi.(Avs)

Dari Akademi Kepolisian ke Podium Belgia: Tiga Taruna Akpol Sumbang Emas untuk Pencak Silat Indonesia


Belgium Open Pencak Silat Championship 2026 yang berlangsung di Schoten, Belgia pada 24–27 April 2026 akan selalu dikenang sebagai momen ketika tiga taruna Akademi Kepolisian (Akpol) naik ke podium tertinggi bersama Timnas Indonesia. M. Zaki Zikrilah Prasong (Kelas B Putra) dan regu putra yang diperkuat Rano Slamet Nugraha serta Andika Dhani Reksa berhasil menyumbangkan medali emas, membuktikan bahwa kampus kepolisian tidak hanya melahirkan aparat penegak hukum yang tangguh, tetapi juga atlet pencak silat kelas dunia. Secara keseluruhan, kontingen Pelatnas yang terdiri dari 9 atlet dan 2 pelatih membawa pulang 4 emas dan 1 perak, sebuah pencapaian yang mengokohkan posisi Indonesia sebagai penguasa pencak silat global. Keberhasilan ini juga melengkapi prestasi atlet Polri yang menjadi juara umum taekwondo di Jepang sehari sebelumnya.

Medali emas lainnya diraih Iqbal Chandra Pratama di Kelas F Putra dan Safira Dwi Meilani di Kelas C Putri, sementara satu perak disumbangkan Tito Hendra Septa Kurnia di Kelas E Putra. Yang menarik perhatian publik adalah dominasi taruna Akpol dalam nomor regu, di mana mereka berhasil mengalahkan lawan-lawannya dengan skor meyakinkan. Ini adalah hasil dari program pembinaan yang dimulai sejak awal pendidikan di Akpol, di mana pencak silat tidak hanya diajarkan sebagai bela diri, tetapi juga sebagai alat pembentukan karakter disiplin, kerja sama tim, dan ketahanan mental. Komite Olahraga Polri yang diresmikan pada Mei 2024 menjadi motor penggerak utama, memastikan bahwa atlet-atlet berbakat di lingkungan Polri mendapat panggung yang layak.

Wakapolri Dedi Prasetyo memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas capaian ini, menegaskan bahwa dalam waktu kurang dari satu minggu, Polri telah menunjukkan kapasitasnya sebagai pembina olahraga prestasi yang serius dan terukur. Ia menyoroti peran Irjen Pol. Nunung Syaifuddin, yang sebagai Manager Timnas Pencak Silat Indonesia berhasil mengoordinasikan persiapan lintas sektor, mulai dari pemusatan latihan hingga keberangkatan ke Belgia. Menurut Wakapolri, keberhasilan ini adalah hasil dari sistem pembinaan yang menjamin hak-hak atlet, baik dari segi pelatihan, perlengkapan, maupun pendampingan karier, sehingga mereka bisa fokus pada prestasi tanpa khawatir akan masa depan.

Prestasi gemilang ini menjadi modal krusial untuk menghadapi SEA Games 2027 di Malaysia. Dengan talenta muda yang sudah terbukti di kancah Eropa, Timnas Pencak Silat Indonesia optimistis untuk kembali mendominasi dan mengharumkan nama bangsa. Keberhasilan para taruna Akpol juga diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia bahwa pendidikan formal dan prestasi olahraga bisa berjalan beriringan. Polri, melalui Komite Olahraga Polri, berkomitmen untuk tidak pernah berhenti mendukung atlet-atlet berbangsa, karena setiap medali yang diraih adalah investasi jangka panjang untuk kebanggaan nasional dan bukti bahwa Indonesia mampu bersaing di panggung dunia.(Avs)

Senin, 27 April 2026

Aiptu Harianto: Dari Takut Menjadi Percaya Diri, Coaching Clinic SIM di Nganjuk Sukses Digelar


Rasa takut gagal dalam ujian praktik Surat Izin Mengemudi (SIM) sering kali membuat pemohon justru melakukan kesalahan-kesalahan teknis yang sebenarnya bisa dihindari dengan persiapan yang cukup. Satlantas Polres Nganjuk menjawab masalah ini dengan menggelar coaching clinic yang dipandu oleh Aiptu Harianto di Satpas SIM Polres Nganjuk pada Selasa (28/4/2026) melalui program Polantas Menyapa. Kegiatan ini didesain khusus untuk mengubah kegugupan menjadi kepercayaan diri, dengan memberikan pemahaman menyeluruh tentang setiap elemen ujian praktik. Para pemohon tidak hanya diajari cara berkendara, tetapi juga cara mengelola emosi dan konsentrasi saat dihadapkan pada tekanan ujian.

Dalam sesi pendampingan, Aiptu Harianto dengan sabar membimbing peserta satu per satu. Ia memulai dengan demonstrasi teknik dasar: posisi tubuh yang rileks namun siap, pandangan mata yang jauh ke depan bukan ke roda, serta koordinasi antara gas, rem, dan kopling yang halus. Untuk kendaraan roda dua, ia mengajarkan teknik pengereman darurat yang aman tanpa membuat ban selip. Untuk roda empat, ia membahas cara memeriksa titik buta sebelum berpindah lajur. Semua ini dilakukan di lintasan yang sama dengan yang akan digunakan pada ujian praktik, sehingga peserta benar-benar merasakan situasi yang sebenarnya. Peserta yang awalnya gemetar saat memegang kemudi, setelah beberapa kali latihan menjadi lebih tenang dan terukur.

AKP Ivan Danara Oktavian, S.Tr.K., S.I.K., M.H., Kasat Lantas Polres Nganjuk, mengungkapkan bahwa coaching clinic ini adalah wujud komitmen Satlantas dalam menghadirkan pelayanan yang edukatif dan humanis. Menurutnya, keberhasilan seorang pemohon SIM tidak diukur hanya dari kelulusannya, tetapi dari kemampuannya menjadi pengendara yang aman dan bertanggung jawab setelah SIM tersebut diterbitkan. Oleh karena itu, materi yang diajarkan tidak hanya berfokus pada teknik lulus ujian, tetapi juga pada kebiasaan berkendara yang baik untuk jangka panjang, seperti selalu menggunakan helm SNI, tidak melawan arus, dan mematuhi batas kecepatan. Suasana coaching clinic yang interaktif memungkinkan peserta bertanya apa pun tanpa rasa sungkan.

Para peserta meninggalkan kegiatan dengan senyum lega dan rasa percaya diri yang melonjak. Satlantas Polres Nganjuk berharap melalui coaching clinic ini, kualitas pengendara di jalan raya semakin meningkat, sehingga dapat menekan angka kecelakaan lalu lintas di wilayah Kabupaten Nganjuk. Program ini juga menjadi bukti bahwa Polri terus berbenah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Bagi Anda yang akan mengikuti ujian praktik SIM, jangan ragu untuk mengikuti coaching clinic berikutnya. Ingat, persiapan yang matang hari ini adalah keselamatan Anda dan keluarga di jalan raya di masa depan.(Avs)

Polisi Wanita Ini Pantau Kebun Pepaya Warga: BRIGPOL Risky Munfarida Jaga Ketahanan Pangan Ngadirejo


Di tengah kesibukannya sebagai Bhabinkamtibmas, BRIGPOL Risky Munfarida dari Polsek Warujayeng, Nganjuk, menyempatkan diri untuk memantau lahan Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) milik warga Desa Ngadirejo pada Selasa (28/4/2026). Fokus pemantauannya kali ini adalah tanaman pepaya, yang sengaja dipilih karena mudah dibudidayakan dan memiliki manfaat gizi tinggi untuk konsumsi keluarga. Langkah ini menjadi bagian dari program Polri dalam mendukung ketahanan pangan nasional, dengan menjadikan Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak di tingkat desa. Kebun pepaya di pekarangan rumah bukan hanya pemandangan asri, tetapi juga jaminan ketersediaan vitamin C dan serat bagi keluarga tanpa harus belanja ke pasar.

Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan, S.H., S.I.K., M.I.K., menjelaskan bahwa keterlibatan aktif Bhabinkamtibmas dalam program P2B adalah bentuk dukungan Polri agar setiap potensi lahan yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan sumber pangan bergizi dan berkelanjutan. Menurutnya, tanaman seperti pepaya sangat cocok untuk program ini karena pohonnya tidak membutuhkan perawatan intensif, tahan terhadap berbagai kondisi cuaca, dan masa panennya yang berkelanjutan membuat keluarga bisa memanen setiap minggu setelah pohon dewasa. Ini berbeda dengan tanaman semusim yang harus ditanam ulang setiap kali panen, sehingga lebih hemat tenaga dan biaya dalam jangka panjang.

Di lokasi pemantauan, BRIGPOL Risky tidak hanya berdiri dan melihat dari jauh, ia masuk ke setiap pekarangan, memeriksa daun apakah ada bercak kuning, memeriksa buah apakah ada tanda-tanda busuk, sambil mengobrol santai dengan warga tentang pengalaman mereka berkebun. Ia juga mengingatkan pentingnya memangkas daun yang sudah tua agar nutrisi terfokus pada buah. Kapolsek Warujayeng Kompol H. Ahmad Junaedi, S.H., menambahkan bahwa pihaknya akan terus mendorong setiap Bhabinkamtibmas, baik pria maupun wanita, untuk aktif mengedukasi masyarakat tentang pemanfaatan lahan pekarangan. Menurutnya, ketahanan pangan bukan hanya tugas penyuluh pertanian, tetapi tugas bersama, termasuk kepolisian yang memiliki akses ke semua lapisan warga.

Penutup dari kegiatan ini adalah optimisme bahwa masyarakat Desa Ngadirejo akan semakin termotivasi untuk menanam pepaya dan tanaman produktif lainnya di pekarangan mereka. Polsek Warujayeng berharap program P2B yang didampingi Bhabinkamtibmas ini dapat direplikasi ke seluruh desa di Kecamatan Warujayeng, bahkan di seluruh Nganjuk. Karena jika setiap rumah memiliki kebun pekarangan yang produktif, gejolak ekonomi akibat kenaikan harga sayur dan buah tidak akan terlalu terasa. Inilah polisi yang hadir bukan dengan rombongan besar, tetapi dengan hati yang kecil dan langkah nyata di kebun warga.(Avs)

Jaga Stabilitas Pangan dari Halaman Rumah, Bhabinkamtibmas Kedungrejo Pantau Lahan Warga


Ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari lumbung desa atau sawah luas, tetapi bisa dari pekarangan rumah yang dikelola dengan baik. Itulah keyakinan yang diusung BRIPKA Miftakhul Hadi, K., Bhabinkamtibmas Desa Kedungrejo, Polsek Warujayeng, Nganjuk, saat ia melakukan pemantauan Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) milik warga binaannya pada Selasa (28/4/2026). Pemantauan ini bukan sekadar tugas rutin, melainkan wujud kepedulian nyata agar lahan pekarangan yang selama ini mungkin kurang terawat bisa disulap menjadi sumber pangan bergizi yang memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Dengan peran ganda ini, Bhabinkamtibmas menjelma menjadi ujung tombak program ketahanan pangan di tingkat desa.

Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan, S.H., S.I.K., M.I.K., menekankan bahwa Polri melalui Bhabinkamtibmas memiliki komitmen kuat untuk menjadi penggerak ketahanan pangan di masyarakat. Kehadiran mereka di desa-desa bukan hanya untuk urusan kamtibmas, tetapi juga untuk memberikan motivasi dan pendampingan agar program seperti P2B dapat berjalan maksimal dan berkelanjutan. Pemanfaatan pekarangan dinilai sangat strategis karena dapat disesuaikan dengan potensi lahan yang terbatas sekaligus dengan kebutuhan gizi spesifik setiap rumah tangga. Dengan begitu, keluarga tidak perlu lagi mengeluarkan uang banyak untuk membeli sayur dan buah setiap hari.

Di lapangan, BRIPKA Miftakhul melakukan monitoring dengan pendekatan yang hangat: ia berjalan dari rumah ke rumah, memeriksa kondisi tanaman, lalu duduk bersama warga untuk mendengarkan kendala-kendala yang mereka hadapi. Mulai dari masalah penyiraman, pemupukan, hingga serangan hama, semua didiskusikan secara terbuka. Kapolsek Warujayeng Kompol H. Ahmad Junaedi, S.H., mendukung penuh langkah ini dan berjanji akan terus mendorong seluruh Bhabinkamtibmas di jajarannya agar aktif melakukan pendampingan ketahanan pangan secara terjadwal. Harapannya, dengan pendampingan yang konsisten, warga akan semakin bersemangat mengelola lahan pekarangan mereka secara produktif.

Sinergi antara Polri dan masyarakat dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui program P2B ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang yang nyata di lingkungan desa. Bukan hanya soal hasil panen, tetapi juga tentang perubahan pola pikir bahwa lahan sempit sekalipun bisa bernilai ekonomi jika dikelola dengan tekun dan didampingi dengan baik. Polsek Warujayeng pun berkomitmen untuk terus mereplikasi model pendampingan ini ke desa-desa lain, menjadikan Bhabinkamtibmas sebagai garda terdepan ketahanan pangan sekaligus garda keamanan yang humanis dan dekat dengan rakyat.(Avs)

Menteri PPPA: Relasi Kuasa Penyebab Korban Diam, Penghargaan untuk Polda Jatim Jadi Contoh Nasional


Dalam seminar nasional yang digelar Polda Jatim di Surabaya pada Senin (27/4/26), Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi secara resmi menyerahkan penghargaan kepada Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA-PPO) Polda Jatim. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi direktorat tersebut dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, mulai dari proses penegakan hukum yang cepat hingga upaya perlindungan hak-hak korban yang sering terlupakan. Menteri Arifah hadir langsung dalam acara bertajuk "Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata Menghapus Kekerasan Seksual Berbasis Relasi Kuasa" ini untuk memastikan pesan-pesan krusial sampai ke telinga para pemangku kepentingan.

Data yang disampaikan Menteri Arifah dalam sambutannya menjadi perhatian utama: berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional Tahun 2024, 1 dari 4 perempuan Indonesia usia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan, sementara Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja Tahun 2024 mencatat 1 dari 2 anak di Indonesia pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya, dengan kekerasan emosional sebagai bentuk paling dominan. Namun yang paling menyedihkan, lanjut menteri, adalah banyaknya korban yang memilih diam akibat adanya relasi kuasa. Pelaku sering kali adalah orang terdekat, atasan, guru, atau figur otoritas lainnya sehingga korban merasa tidak berdaya dan takut melapor. Inilah celah yang harus segera ditutup dengan berbagai kebijakan perlindungan yang lebih kuat.

Menteri Arifah menjelaskan bahwa relasi kuasa menciptakan situasi di mana korban memiliki rasa hormat, ketergantungan, atau ketakutan berlebihan terhadap pelaku, sehingga mereka tidak berani menolak maupun berbicara tentang kekerasan yang dialami. Untuk itu, dikatakannya, relasi kuasa harus diminimalisir dengan berbagai pendekatan, termasuk edukasi sejak dini, penyediaan saluran pengaduan yang aman, dan pendampingan psikologis bagi korban. Seminar nasional ini diharapkan menjadi momentum lahirnya solusi nyata yang melibatkan semua elemen masyarakat, bukan hanya aparat penegak hukum, untuk membangun kesadaran kolektif dan memperkuat sistem perlindungan terhadap perempuan dan anak di Indonesia.

Mengakhiri sambutannya, Menteri PPPA menyampaikan apresiasi kepada Polda Jawa Timur beserta jajaran yang turut mendukung penyelenggaraan kegiatan, dan berharap seminar ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tetapi dilanjutkan dengan aksi nyata di lapangan. Ia menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak boleh terjadi oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, dan kita harus menghentikannya sekarang juga. Penghargaan untuk Ditres PPA-PPO Polda Jatim ini diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain bahwa kerja keras dalam melindungi perempuan dan anak akan mendapatkan pengakuan nasional, sekaligus menjadi pesan bahwa tidak ada toleransi sedikit pun bagi kekerasan berbasis gender di Indonesia.(Avs)

Jogo Jatim dari Meja Bundar: Kapolres Madiun Kota dan SBMR Sinergi Jelang May Day


Ketika kabar soal demo buruh sering kali membuat cemas, Polres Madiun Kota mengambil inisiatif cerdas dengan menggelar silaturahmi bersama Serikat Buruh Madiun Raya (SBMR) pada Senin (27/4/2026) di Lobby Pangeran Timur. Kapolres AKBP Wiwin Junianto tidak berbicara tentang pengerahan pasukan atau penjagaan superketat, melainkan tentang ajakan untuk bersama-sama ikut "Jogo Jatim" dengan menciptakan kamtibmas yang aman dan kondusif. Ia menekankan pentingnya komunikasi harmonis menjelang peringatan Hari Buruh Internasional, karena stabilitas keamanan adalah tanggung jawab semua pihak, termasuk para pekerja.

Tak berhenti di situ, Kapolres juga menyentuh isu riil yang sedang membakar emosi masyarakat: kenaikan harga dan kelangkaan BBM serta LPG. Ia berharap SBMR turun langsung mengawasi distribusi kebutuhan tersebut agar tepat sasaran dan tidak ada permainan yang merugikan rakyat. Ini adalah bentuk kepercayaan luar biasa dari kepolisian kepada serikat buruh, karena biasanya pengawasan distribusi dianggap ranah aparat semata. Dengan peran ganda ini, buruh bukan lagi sekadar peserta aksi, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam mengawal kebijakan publik yang adil.

Ketua SBMR, Aris Budiono, menyambut hangat seruan tersebut dan menyatakan siap menjaga kondusivitas wilayah. Ia juga melaporkan rencana kegiatan May Day 2026 yang sangat tertib: aksi damai di Alun-Alun Kota Madiun dilanjutkan dengan ziarah ke makam almarhum Benu Widodo, pendiri KASBI, di TPU Sembungan yang diperkirakan diikuti sekitar 20 peserta. Melalui koordinasi intens dengan Polres, SBMR memastikan tidak akan ada aksi liar yang merusak citra perjuangan buruh. Langkah ini menjadi contoh bahwa demonstrasi bisa tetap kritis tanpa harus anarkis.

Penutup yang manis dari silaturahmi ini adalah komitmen bersama bahwa May Day 2026 di Kota Madiun akan berlangsung sejuk, harmonis, dan penuh hormat. Polres Madiun Kota dan SBMR telah menunjukkan pada Indonesia bahwa perbedaan kepentingan tidak harus diselesaikan dengan kekerasan. Dengan sinergi ini, "Jogo Jatim" bukan sekadar jargon, melainkan gerakan nyata yang melibatkan polisi, buruh, dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga tanah air dari perpecahan.(Avs)

Polres Bojonegoro dan Bhayangkari Tanam Jagung di Hutan Petak 127b, Wujudkan Ketahanan Pangan dari Akar Rumput


Mengawali pekan terakhir April 2026, Polres Bojonegoro Polda Jatim bersama YKB Cabang Bojonegoro, Perum Perhutani KPH Bojonegoro, dan kelompok tani setempat menggelar aksi penanaman jagung dan ketela di lahan hutan Petak 127b, RPH Sampang, BKPH Dander, sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap program ketahanan pangan nasional, Senin (27/4/26). Kapolres Bojonegoro AKBP Afrian Satya Permadi menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan Hari Jadi Yayasan Kemala Bhayangkari (YKB) ke-46 sekaligus bukti bahwa Polri tidak bisa tinggal diam menghadapi tantangan pangan global. "Penanaman jagung pada momen peringatan hari jadi YKB ke-46 kali ini untuk mendukung dan mewujudkan ketahanan pangan," ujar AKBP Afrian di lokasi penanaman yang disulap menjadi kebun produktif.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Bojonegoro bersama Ketua YKB Cabang Bojonegoro, Ny. Dita Afrian, memberikan bantuan pupuk secara simbolis kepada kelompok tani yang tergabung dalam LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan). AKBP Afrian menekankan pentingnya sinergi antara kepolisian, Perhutani, Bhayangkari, dan masyarakat dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan hutan secara produktif dan berkelanjutan, terutama di wilayah yang selama ini kurang mendapat sentuhan program pertanian. Ia berharap bahwa apa yang dimulai hari ini akan menjadi gerakan berkelanjutan, tidak hanya di satu petak hutan tetapi menyebar ke seluruh wilayah Bojonegoro. "Kami berharap program ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar," ungkapnya.

Ketua YKB Cabang Bojonegoro, Ny. Dita Afrian, menyampaikan harapannya agar bantuan stimulan pupuk yang diberikan dapat membantu meringankan biaya produksi petani pada awal masa tanam, sehingga para petani bisa lebih fokus pada proses penanaman dan perawatan. Dengan beban awal yang lebih ringan, ia optimistis hasil panen nantinya akan lebih maksimal, dan pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan petani hutan. Sementara itu, Wakil Administratur Bojonegoro Barat Perum Perhutani, Kiswanto, menegaskan komitmen penuh Perhutani untuk terus membuka akses kelola hutan bagi masyarakat, sepanjang dilakukan sesuai prinsip kelestarian lingkungan. “Kami siap berkolaborasi dan mendukung program-program dari Kepolisian maupun pemerintah,” ujar Kiswanto.

Penanaman jagung dan ketela di lahan hutan ini menjadi simbol bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara kolektif. Polres Bojonegoro berharap masyarakat sekitar hutan dapat merawat tanaman ini dengan baik dan pada waktunya menikmati hasil panen yang melimpah. Ke depan, program serupa akan terus dikembangkan di lahan-lahan hutan lainnya, menjadikan Polres Bojonegoro sebagai pelopor dalam mendukung swasembada pangan dari akar rumput. (Avs)

Minggu, 26 April 2026

Patroli Tanpa Henti: E-TLE Handheld Polres Nganjuk, Cukup Satu Foto Data Pelanggar Langsung Masuk Pusat


Polres Nganjuk melalui Satuan Lalu Lintas secara resmi mengoperasikan E-TLE Handheld pada Senin (27/4/2026), sebuah terobosan yang memungkinkan petugas merekam pelanggaran lalu lintas cukup dengan satu kali jepretan dari perangkat genggam khusus, lalu data kendaraan pelanggar langsung terdeteksi dan terhubung dengan sistem nasional tanpa jeda. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menjelaskan bahwa inovasi ini adalah wujud nyata modernisasi penegakan hukum yang lebih profesional, di mana penindakan tidak lagi bergantung pada interaksi langsung di pinggir jalan yang rawan subjektivitas. Ia menekankan bahwa tujuan utama sistem ini bukanlah menjaring sebanyak-banyaknya pelanggar, melainkan menanamkan kesadaran bahwa keselamatan berkendara adalah tanggung jawab bersama.

E-TLE Handheld dioperasikan dengan dua skenario penindakan: skenario tanpa henti di mana petugas merekam dari kejauhan dan surat teguran beserta bukti dikirim ke rumah pemilik kendaraan, serta skenario verifikasi di tempat di mana pelanggar dihentikan untuk mendapat penjelasan dan bukti cetak langsung. Sasaran pelanggaran yang menjadi fokus antara lain pengendara motor tanpa helm SNI, pengemudi yang menggunakan telepon genggam saat mobil atau motor berjalan, pelanggar marka jalan seperti menerobos garis putus-putus atau solid, serta kendaraan yang melawan arus. Kasat Lantas Polres Nganjuk AKP Ivan Danara Oktavian menambahkan bahwa sistem ini jauh lebih akurat dibandingkan tilang manual karena setiap bukti dilengkapi dengan metadata waktu, lokasi, dan identitas kendaraan.

Kapolres juga menyoroti aspek transparansi: dengan sistem digital, masyarakat tidak perlu khawatir tentang tuduhan pelanggaran yang tidak jelas karena bukti foto dapat ditampilkan sewaktu-waktu. Petugas pun menjadi lebih efisien karena tidak harus keluar kendaraan dalam kondisi lalu lintas padat atau cuaca buruk; cukup dari dalam mobil, operasi penindakan tetap berjalan aman dan efektif. Polres Nganjuk berharap teknologi ini dapat menekan angka kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian seperti bermain ponsel atau nekat melawan arus, yang selama ini sulit dibuktikan tanpa rekaman digital.

Dengan peluncuran E-TLE Handheld, Polres Nganjuk menunjukkan komitmennya pada penegakan hukum yang adil, modern, dan berpihak pada keselamatan publik. Langkah ini sekaligus menjadi contoh bagi daerah lain bahwa digitalisasi tilang bukan lagi wacana, tetapi kebutuhan mendesak di era lalu lintas yang semakin kompleks. (Avs)

14 Emas, 5 Perak, 2 Perunggu: Kontingen PolRI Tutup Kejuaraan Taekwondo Osaka sebagai Juara Umum Dunia


Gelora Ohama Arena Sakai di Osaka, Jepang, gempar ketika nama Tim Taekwondo Garbha Presisi PolRI diumumkan sebagai juara umum The 22nd WATA Open International Taekwondo Championship 2026 setelah mengoleksi 21 medali dari 15 atlet yang diturunkan, dengan rincian 14 emas, 5 perak, dan 2 perunggu. Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo langsung merespon dengan menegaskan bahwa ini adalah keberhasilan sistem pembinaan yang dibangun sejak peresmian Komite Olahraga Polri (KOP) pada Mei 2024 oleh Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, yang menjadi titik balik pembinaan atlet Polri. Kemenangan ini terjadi di hari kedua pertandingan, Minggu (27/4/26), dengan dominasi yang terlihat sejak hari pertama di semua kategori poomsae dan kyorugi prestasi.

Para peraih medali emas antara lain Bripda Rizky Irma Suryani, Bripda M. Rizky Prasetya, Brigadir Ihya Ainizahra di poomsae individu, kemudian Bripda Muhammad Rizky Prasetia dan Bripda Rizky Irma Suryani di poomsae pair. Di nomor kyorugi, Bripda Dinda Putri Lestari (U-73), Bripda Abi Nidya Ira Wati (U-49), Bripda Adrian Kaiser Hakiki (U-87), Bripda Gigih Adhiyodha (U-63), Bripda Edgar Afazhar (U-80), Bripda Muhamad Hafidz (U-68), serta Brigadir Ressya Folingga (U+68) semuanya pulang membawa emas. Medali perak dari Brigadir Ihya Ainizahra dkk dan perunggu dari Bripda Bagas Adyatma melengkapi koleksi besar ini.

Official tim M. Rustam Febrianzah menyampaikan penghargaan tertinggi kepada Kapolri atas dukungan, perhatian, dan komitmen yang konsisten dalam membuka ruang seluas-luasnya bagi personel berprestasi. Wakapolri menambahkan bahwa KOP akan terus memastikan pembinaan dan penjaminan hak-hak atlet Polri berjalan optimal, karena prestasi seperti ini tidak lahir tanpa sistem yang kuat. Keberhasilan di Osaka ini sekaligus menjadi jawaban bahwa Polri mampu melahirkan atlet-atlet dunia yang tidak hanya kuat secara fisik tetapi juga bermental juara.

Dengan gelar juara umum ini, Polri tidak hanya membawa pulang piala tetapi juga mengharumkan nama Indonesia di kancah taekwondo internasional. Wakapolri mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung terus para atlet Polri, karena prestasi ini adalah milik bangsa, dan ke depan akan ada lebih banyak lagi kejutan dari atlet-atlet binaan Komite Olahraga Polri. (Avs)

Mulai dari Bundaran Waru hingga Tegalsari: Ini 22 Titik Kanalisasi Polrestabes Surabaya untuk May Day 2026


Polrestabes Surabaya mengumumkan persiapan teknis pengamanan May Day 2026 dengan menerapkan sistem kanalisasi di 22 titik yang tersebar dari Bundaran Waru, Wonokromo, hingga ke kawasan pusat kota seperti Tunjungan dan Tegalsari. AKBP Rosyid Hartanto selaku Waka Polrestabes menegaskan bahwa lokasi-lokasi seperti Ahmad Yani, Margorejo, serta jalur menuju Tembaan–Bubutan juga masuk dalam daftar prioritas karena dikenal sebagai jalur vital dengan volume kendaraan sangat tinggi. Metode ini bertujuan membagi jalur lalu lintas secara terstruktur, terutama di persimpangan padat dan area putar balik, sehingga arus kendaraan tetap terkendali meski ada aksi massa.

Jarak antar titik pengamanan telah dihitung secara presisi untuk memastikan personel dari satuan lalu lintas, samapta, dan reskrim dapat terdistribusi merata serta memberikan respons cepat terhadap potensi kemacetan atau gangguan. Polrestabes tidak bekerja sendiri; dukungan dari berbagai instansi lintas sektor turut memperkuat pelayanan pengamanan di lapangan. Di titik-titik dengan tingkat kerawanan tertinggi, jumlah personel diperkuat hingga puluhan orang agar pengendalian situasi dapat berjalan optimal dan antisipatif.

Kelebihan dari pola kanalisasi ini adalah kemampuannya mengarahkan arus kendaraan agar tidak bertabrakan dengan jalur mobilisasi peserta aksi, sekaligus menyediakan skema pengalihan arus yang fleksibel jika terjadi eskalasi. Kawasan yang berdekatan dengan pusat aktivitas massa seperti Bundaran Waru dan Wonokromo menjadi perhatian utama, karena Polrestabes mengedepankan pendekatan preventif dan humanis. Dengan demikian, aktivitas masyarakat tetap lancar tanpa mengabaikan keamanan ruang penyampaian aspirasi para buruh.

AKBP Rosyid mengimbau seluruh pengguna jalan untuk mematuhi arahan petugas dan mencermati rekayasa lalu lintas yang diterapkan selama peringatan May Day berlangsung. Polrestabes Surabaya optimistis bahwa dengan kesiapan 22 titik kanalisasi ini, Hari Buruh Internasional 2026 akan berjalan aman, tertib, kondusif, serta tidak mengganggu stabilitas aktivitas kota sehari-hari. (Avs)