Sabtu, 25 April 2026

Kapolda Riau Belajar Filosofi Bara dari Rocky Gerung di Tengah Hujan Rimbang Baling


Tak biasa memang melihat seorang jenderal polisi duduk lesehan di tanah basah, mendengarkan seorang filsuf kontroversial menguraikan teori kepunahan peradaban. Namun, itulah yang terjadi di Rimbang Baling ketika Irjen Herry Heryawan memilih hadir langsung dalam Camping Kebangsaan Mahasiswa Riau. Kedatangannya bukan untuk mengintimidasi, melainkan untuk mendengar sendiri keluhan para pegiat lingkungan yang selama ini kerap merasa diabaikan instrumen hukum.

Kegiatan yang digagas oleh Tumbuh Institute ini mengundang sekitar 150 mahasiswa dari berbagai spektrum ideologi. Mereka duduk dalam lingkaran yang sama, di bawah naungan pohon-pohon yang terancam terbakar setiap musim kemarau. Azairus Adlu selaku tuan rumah dengan sengaja merancang forum ini tanpa sekat-sekat formal. Tidak ada podium tinggi, tidak ada kursi VIP. Semua sama, semua basah oleh gerimis yang setia menemani dua hari penuh.

Sesi yang paling menggugah terjadi ketika Hurriah menyebut karhutla sebagai bentuk pencabutan hak hidup rakyat secara perlahan. Baginya, setiap kepulan asap yang masuk ke paru-paru anak-anak di sekitar hutan adalah bukti nyata bahwa negara gagal melindungi warga paling rentan. Rocky menambahkan sudut pandang kosmopolitan: bumi adalah satu-satunya kapal yang kita tumpangi, dan jika kapal itu terbakar, tak ada sekoci penyelamat untuk orang kaya sekalipun.

Sebagai penutup, seluruh peserta mengadakan focus group discussion yang menghasilkan tiga poin utama. Pertama, perlunya peta jalan kolaborasi antara kampus dan kepolisian dalam deteksi dini karhutla. Kedua, pembentukan tim riset bersama untuk melacak aliran dana di balik pembakaran lahan. Ketiga, komitmen untuk tidak menggunakan narkoba sebagai gerbang masuk sebelum generasi muda benar-benar hancur. Api unggun yang membara sepanjang malam seolah merestui ikrar tersebut.(Avs)

0 comments:

Posting Komentar