Brigjen Pol. Wira Satya Triputra membeberkan bahwa jaringan ini tidak hanya mengandalkan satu atau dua situs, melainkan 145 domain yang dioperasikan secara bergantian dengan server di empat negara berbeda. Strategi ini membuat upaya pemblokiran oleh Kominfo menjadi kurang efektif, karena begitu satu situs ditutup, puluhan situs lain masih aktif menjerat korban. Ia menambahkan bahwa para pelaku sangat agresif dalam promosi di media sosial, menargetkan pengguna dari berbagai kalangan dengan iming-iming bonus dan kemudahan akses. Dari hasil penyitaan, ditemukan pula materi pelatihan untuk customer service baru, menunjukkan bahwa jaringan ini berencana memperluas operasinya sebelum akhirnya digagalkan.
Irjen Pol. Nunung Syaifuddin menekankan bahwa keempat WNI yang diamankan bukanlah pelaku kecil, melainkan figur sentral yang memungkinkan seluruh operasi berjalan mulus. Mereka tidak hanya menyewakan gedung, tetapi juga mengurus rekening korporasi, membantu konversi kripto ke rupiah, dan bahkan mengatur jadwal kedatangan WNA baru dari berbagai negara. Salah satu dari mereka diketahui memiliki akses langsung ke pemilik modal di luar negeri, menjadikannya mata rantai yang sangat penting untuk diputus. Polri kini tengah memeriksa apakah ada pejabat atau oknum tertentu yang memfasilitasi pengurusan dokumen imigrasi bagi ratusan WNA tersebut.
Di sisi lain, penyidik juga menyita 155 paspor yang sebagian besar menunjukkan bahwa para WNA baru tiba di Indonesia dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Hal ini mengindikasikan adanya pola rotasi yang terencana, di mana pelaku lama dipulangkan dan diganti dengan yang baru untuk menghindari kecurigaan. Brigjen Pol. Wira menyebut bahwa modus ini mirip dengan jaringan scamming yang diungkap beberapa waktu lalu, sehingga ada kemungkinan keterkaitan antar-sindikat internasional. Ia pun tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian dari uang hasil judi dialirkan ke kegiatan ilegal lain, seperti narkoba atau pencucian uang skala besar.
Dengan total deposit Rp13,9 triliun dan keuntungan Rp1,69 triliun, kasus ini menjadi salah satu pengungkapan judi online terbesar dalam sejarah Polri. Karopenmas Divhumas Polri menyebut bahwa angka-angka ini adalah pukulan telak bagi sindikat internasional yang menganggap Indonesia sebagai lahan basah. Namun, ia mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai; masih ada perusahaan sponsor, aliran dana lintas negara, dan aset hasil kejahatan yang harus diburu. Polri berkomitmen untuk terus mengembangkan kasus ini hingga ke akar-akarnya, bekerja sama dengan Interpol dan lembaga keuangan internasional, agar para pelaku tidak bisa lagi berlindung di balik teknologi dan kedaulatan negara lain. (Avs)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar