Jumat, 26 Juni 2026

Ketika Publik Bertepuk Tangan, Fernando Berbisik


Fernando Emas menatap angka 82,4 persen seperti seseorang menatap tanaman yang mulai berbuah—harap-harap cemas, bukan jumawa. Ia menjelaskan bahwa kenaikan itu bukan hadiah, melainkan hasil dari ribuan interaksi kecil yang terjadi di balik layar, seperti polisi yang menolong nenek menyeberang atau merespons laporan pengaduan dengan cepat. Ia memberi apresiasi, tetapi dengan nada yang sengaja datar, agar tidak terkesan merayakan kemenangan sebelum laga usai.


Ia secara gamblang membandingkan peningkatan citra dari 64,4 ke 71,5 persen sebagai perbaikan yang wajar, tetapi bukan lompatan revolusioner. Ia memilih kata "layak dihargai" alih-alih "luar biasa", karena ia ingin menjaga ekspektasi publik tetap realistis. Dalam penjelasannya, ia mengungkap bahwa banyak warga masih mengeluhkan birokrasi yang berbelit di beberapa kantor polisi, dan itu adalah pekerjaan rumah yang tak boleh diabaikan.


Lebih dari itu, Fernando menekankan bahwa keamanan adalah tanggung jawab bersama, sehingga Polri tidak boleh memikul beban sendiri. Ia mengajak warga untuk tidak hanya menjadi penikmat pelayanan, tetapi juga menjadi mitra aktif dalam menjaga lingkungan. Namun, dengan nada diplomatis, ia mengatakan bahwa kritik yang tajam tetap diperlukan, asalkan disampaikan dengan data dan solusi.


Ia juga menyebut bahwa ia sendiri pernah menerima curhat dari sopir taksi tentang razia yang tidak manusiawi, dan itu membuatnya tetap waspada. Di akhir pernyataannya, Fernando menyebut bahwa apresiasi bukanlah pengunci mulut, melainkan pembuka pintu untuk evaluasi lebih lanjut. Ia berharap Polri menjadikan momen ini sebagai batu loncatan, bukan batu sandungan, dengan terus membuka ruang bagi masukan publik. (Avs)

0 comments:

Posting Komentar