Selasa, 02 Juni 2026

Kangkung, Sawi, dan Cabe: Senjata Rahasia Bhabinkamtibmas Kendalrejo Lawan Krisis Pangan


Saat harga sayuran di pasaran naik turun tak menentu, warga Desa Kendalrejo, Kecamatan Bagor, Nganjuk, tersenyum tenang karena pekarangan rumah mereka sendiri yang menjadi solusi. Pada Rabu (3/6/2026), Bhabinkamtibmas Bripka Suwito melaksanakan pemantauan program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B), di mana warga binaannya menanam kangkung, sawi, dan cabe di lahan pekarangan yang sebelumnya kosong. Langkah ini adalah bentuk perlawanan terhadap ketergantungan pada pasokan sayur dari luar, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional. Bripka Suwito tidak hanya datang dan pergi, ia berdialog, memeriksa tanaman, dan memastikan setiap keluarga bisa memanen hasil kebunnya sendiri. Inilah peran polisi yang mungkin jarang terlihat: sebagai pelopor kemandirian pangan.

AKBP Suria Miftah Irawan, Kapolres Nganjuk, menyatakan bahwa Polri melalui Bhabinkamtibmas memiliki posisi strategis untuk menggerakkan masyarakat memanfaatkan setiap jengkal lahan produktif. Beliau menekankan bahwa program Pekarangan Pangan Bergizi adalah solusi jangka pendek dan panjang untuk mengurangi pengeluaran rumah tangga sekaligus meningkatkan gizi keluarga. Kangkung, sawi, dan cabe dipilih karena perawatannya mudah, masa panen cepat, dan hampir setiap masakan Indonesia membutuhkannya. Dengan memiliki kebun sendiri di pekarangan, sebuah keluarga tidak perlu khawatir jika harga cabe tiba-tiba melonjak drastis.

Saat kegiatan pemantauan berlangsung, Bripka Suwito dengan teliti mencatat perkembangan tanaman dan memberikan saran praktis tentang penyiraman serta pemupukan organik. Warga pun dengan antusias menunjukkan hasil panen perdana mereka, termasuk kegembiraan saat memetik cabe merah pertama dari kebun pekarangan. Kapolsek Bagor, AKP Winih, menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendukung keterlibatan anggota Bhabinkamtibmas dalam mendampingi program-program produktif seperti ini. Menurutnya, kesuksesan program P2B di Kendalrejo harus menjadi contoh bagi desa-desa lain di wilayah Bagor dan sekitarnya.

Penutup dari cerita ini adalah sebuah keyakinan bahwa ketahanan pangan bukanlah proyek yang rumit dan mahal. Cukup dimulai dari pekarangan rumah, dengan bibit kangkung, sawi, dan cabe, serta pendampingan dari Bhabinkamtibmas yang peduli. AKP Winih berharap setiap keluarga di Indonesia bisa memiliki kebun sayur sendiri di halaman rumahnya. Karena ketika setiap rumah menjadi produsen pangan, bukan hanya konsumen, maka krisis pangan akan kehilangan pijakannya. Di Kendalrejo, Bripka Suwito sudah membuktikannya: satu pekarangan produktif, satu keluarga sehat, satu lompatan besar untuk ketahanan pangan bangsa.(Avs)

0 comments:

Posting Komentar