Nganjuk- Ada yang berbeda dari rutinitas Aipda Sony, Bhabinkamtibmas Desa Tembarak, pada Rabu pagi itu. Daripada sibuk dengan laporan keamanan atau patroli malam, ia memilih untuk berada di tengah lahan jagung yang mulai mengering karena musim kemarau yang berkepanjangan. Tugasnya kali ini adalah melaksanakan arahan Kapolres Nganjuk untuk memantau budidaya jagung dan ketersediaan air, dua elemen penting yang akan menentukan apakah Desa Tembarak mampu bertahan sebagai lumbung pangan lokal atau justru terpuruk oleh krisis air. Inilah wajah baru Polri yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga ketersediaan pangan.
Nganjuk- Selama kunjungannya, Aipda Sony tidak hanya mencatat kondisi tanaman dan sumber air, tetapi juga terlibat langsung dalam diskusi hangat dengan petani tentang solusi jangka pendek dan jangka panjang untuk menghadapi kekeringan. Ia mengusulkan pembuatan embung kecil atau kolam penampungan air di lahan yang lebih rendah, sehingga saat musim hujan tiba, air bisa ditampung dan digunakan saat kemarau. Gagasan ini mendapat respon positif dari petani yang selama ini hanya mengandalkan aliran sungai yang semakin hari semakin surut airnya.
Nganjuk- Kapolsek Kertosono Kompol Joni Suprapto memberikan dukungan penuh terhadap ide pembuatan embung dan berjanji akan membantu mengurus perizinan serta akses ke program bantuan pemerintah untuk pembangunan infrastruktur pertanian. Ia juga menginstruksikan Aipda Sony untuk terus memonitor kondisi air di Desa Tembarak secara berkala dan melaporkan setiap perkembangan yang signifikan. Komitmen ini menunjukkan bahwa Polri tidak hanya hadir sebagai pengayom, tetapi juga sebagai katalisator perubahan yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
Nganjuk- Menjelang siang, Aipda Sony berpamitan setelah memastikan bahwa petani di Desa Tembarak memiliki rencana darurat untuk mengelola air yang tersisa hingga musim hujan tiba. Ia meninggalkan mereka dengan senyuman dan tekad baru untuk tidak menyerah pada keadaan. Desa Tembarak mengajarkan satu hal berharga: di tengah keterbatasan, gotong royong dan kehadiran aparat yang peduli mampu mengubah ancaman menjadi peluang, dan menjadikan jagung sebagai simbol perlawanan terhadap kesulitan yang datang silih berganti.(Avs)

0 comments:
Posting Komentar