Sabtu, 30 Mei 2026

Polres Probolinggo Kawal Yadnya Kasada 2026: 92 Personel, Penutupan Wisata, dan Imbauan Tanpa Bising


Di tengah dinginnya angin pegunungan, ribuan umat Tengger bersiap menggelar ritual tahunan Yadnya Kasada. Minggu (31/5/2026) hingga Senin (1/6/2026) dini hari, kawasan Gunung Bromo menjadi saksi bisu labuhnya sesaji ke kawah. Namun di balik kesakralan itu, Polres Probolinggo bergerak masif. Kapolres AKBP M. Wahyudin Latif menyiagakan 92 personel yang tersebar di jalur, lautan pasir, Pura Luhur Poten, hingga tepi kawah. Tugas mereka: mengamankan jalur, lokasi upacara, dan mengawal tamu VVIP. Tidak hanya itu, Balai Besar TNBTS juga menutup kawasan wisata Bromo mulai 30 Mei hingga 2 Juni 2026 bagi wisatawan umum.

AKBP Latif menjelaskan bahwa pengamanan dilakukan dengan pola terbuka dan tertutup. Personel ditempatkan di titik-titik strategis agar masyarakat Tengger merasa aman tanpa merasa terintimidasi. "Pengamanan kami lakukan secara terbuka dan tertutup dengan menempatkan personel di titik strategis untuk menjamin kegiatan masyarakat Tengger berjalan lancar dan kondusif," ujarnya, Sabtu (30/5/2026). Selain itu, Polres Probolinggo juga berkoordinasi lintas sektor, termasuk dengan petugas taman nasional dan pemerintah desa setempat, untuk memastikan tidak ada celah keamanan yang terlewat.

Kapolres juga mengimbau umat yang mengikuti upacara untuk menjaga ketertiban. Dilarang membawa sound system, petasan, atau menggunakan knalpot bising. "Mari kita hormati tradisi sakral masyarakat Tengger ini dengan menjaga situasi tetap aman dan kondusif," tegasnya. Larangan ini bukan tanpa alasan. Yadnya Kasada adalah tradisi hening, penuh doa, dan penghormatan. Suara bising dari petasan atau knalpot racing akan merusak esensi ritual itu sendiri. Polres Probolinggo juga mengajak semua pihak untuk tidak merusak lingkungan kawasan Bromo, karena kelestarian alam adalah bagian dari syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Rangkaian Yadnya Kasada 2026: Semeninga/Wiwit, Mendak Tirta, Atur Suguh, Pawedalan di Pura Luhur Poten, Malam Resepsi di Pendopo Agung Desa Ngadisari, dan puncaknya labuh sesaji di Kawah Gunung Bromo pada Senin dini hari. Dengan pengamanan ketat dari Polres Probolinggo, seluruh prosesi diharapkan berjalan khidmat tanpa gangguan. Dari sini, kita belajar bahwa tradisi dan keamanan adalah dua sisi mata uang yang sama. Tanpa pengamanan, ritual sakral bisa rentan konflik. Tanpa penghormatan terhadap tradisi, polisi hanya akan menjadi penjaga yang kaku. Polres Probolinggo memilih menjadi pelindung yang merangkul budaya, dan itu layak diapresiasi.(Avs)

0 comments:

Posting Komentar